Perkembangan Islam pada Abad Pertengahan

Penyebaran Islam pada Abad pertengahan lebih terfokus pada tiga kerajaan besar yaitu : Kerajaan Turki Usmani, Kerajaan Safawi, dan kerajaan Mughal.Kerajaan Turki Usmani Usmani adalah sebuah kesultanan yang berpusat di Istambul, Turki. Kerajaan Usmani merupakan salahsatu dari tiga kerajaan besar islam pada masa pertengahan, selain syafawi dan Mughal.

Perkembangan Islam pada Abad Pertengahan
Penyebaran Islam pada Abad pertengahan lebih terfokus pada tiga kerajaan besar yaitu : Kerajaan Turki Usmani, Kerajaan Safawi, dan kerajaan Mughal.

 
Kerajaan Turki Usmani
Usmani adalah sebuah kesultanan yang berpusat di Istambul, Turki. Kerajaan Usmani merupakan salahsatu dari tiga kerajaan besar islam pada masa pertengahan, selain syafawi dan Mughal.

Dinasty Usmani didirikan oleh Usman, putra Ertogol dari kabilah Oghuz di daerah mongol. Mereka datang ke Turki untuk meminta perlindungan kepada penguasa Bani Saljuk dari serangan orang-orang Mongol. Mereka juga membantu Sultan Alauddin II berperang melawan Byzantium. Usman lalu percaya menjadikan panglima perang Dinasty Saljuk, menggantikan ayahnya. Setelah Sultan Alauddin wafat, Usman mengambil alih kekuasaan, sejak itulah berdiri Kerajaan Usmani.

Usman mengumumkan dirinya sebagai "Padisyah Al-Usman" (Raja keluarga Usman). Wilayah kerajaan Usmani semakin meluas dengan menaklukan beberapa wilayah, seperti Azmir (1327 M), Tharasyanli (1330 M), Iskandar (1338 M), Ankara (1354M), dan Gallipoli (1356 M).

Kerajaan Usmani mencapai puncak kejayaan pada masa Muhammad al-fatih. Pada masa ini pula dapat mengalahkan wilayah Bizantium dan menaklukan konstantinopel (1453 M).

Puncak peradaban Dinasty Usmani tidak dapat dilepaskan dari hasil penaklukan konstantinopel. Sebagai ibu kota, disitulah berkembang peradaban Dinasty Usmani yang merupakan perpaduan dari berbagai macam peradaban. Dynasty usmani banyak mengambil ajaran etika dan politik dari bangsa Persia.

Dalam bidang kemiliteran dan pemerintahan Dinasty Usman dipengaruhi oleh Bizantium.

Namun, jauh sebelum mereka berasimilasi dengan bangsa-bangsa tersebut, sejak pertama mereka masuk Islam, bangsa arab telah menuntun mereka dalam bidang agama, prinsip-prinsip kemasyarakatan dan hukum. Oleh karena itu, huruf dijadikan huruf resmi kerajaan.

Pada masa ini terjadi beragam kemajuan dalam berbagai bidang, antara lain :

Bidang Pemerintahan dan Militer
Raja-raja dinasti Usmani bergelar sultan dan khalifah seklaigus. Sultan menguasai kekuasaan duniawi, khalifah berkuasa di bidang agama/spiritual. Dalam menjalankan roda pemerintahannya, sultan/khalifah dibantu seorang Mufti atau yang dikenal dengan Syaikhul Islam yang mewakili Sultan/Khalifah dalam melaksanakan wewenang agamanya dan shadrul A’azam yang mewakili kepala Negara.

Masa ini telah memiliki system pemerintahan yang baik. Kekuatan militernyapun dapat diandalkan. Perubahan mendasar yang dilakukan oleh Orkhan adalah dalam menata militer telah mampu mendongkrak kekuatan militer menjadi mesin perang yang andal. Pada masa ini muncul kelompok elite militer yang disebut Janissary atau Inkisyariyah yang merupakan kekuatan penghancur dan penakluk negeri-negeri nonmuslim.

Bidang pengetahuan dan Budaya

Syair merupakan ekspresi utama kesenian raja. Syair istana didasarkan pada aruz. Aruz adalah sebuah irama persajakan dari irama syair Aram, yang secara tegas ditekankan pada peristilahan Arab dan Persia. Beberapa bentuk kesenian yang utama adalah kesenian yang sebelumnya telah dikembangkan dalam syair-syair istana Persia, seperti Qasida, gazal, Masnawi dan Ruba’i.

Dalam rentangan abad keenam belas, ambisi Usmani diekspresikan dalam komposisi berbagai sejarah dunia. Karya Mustafa ‘Ali (1541 – 1599 M, kunh al-Akhbar memuat catatan sejarah dunia dari adam sampai yesus, sejarah Islam diakhiri dengan sejarah usmani. Pada Abad ketujuh belas, saat itu sejarawan dipekerjakan untuk mencatat peristiwa-peritiwa sehari-hari di Istana.

Bidang pendidikan
Dinasty Usmani melakukan pengorganisasian pada system pendidikan madrasah yang tersebar luas. Madrasah usmani pertama didirikan di Iznik pada Tahun 1331 M. sejumlah ulama didatangkan dari Iran dan Mesir untuk mengembangkan pengajaran Muslim dibeberapa territorial yang baru.
Beberapa sultan masa belakangan juga mendirikan perguruan Bursa, Edirne dan Istambul.

Pada akhir abad ke-15 beberapa perguruan ini disusun dalam sebuah hierarki yang menetukan jenjang karir bagi promosi-promosi ulama-ulama besar.

Bidang Agama
Kerajaan Turki Usmani mempunyai beberapa peranan yang sangat stategis dan penting sehingga dalam masalah pemerintahanpun diperlukan fatwa dan mufti. Tanpa adanya fatwa, hukum dalam bidang keagamaan dan kerajaan tidak berjalan. Pada masa ini muncul dua aliran tarekat yaitu : Bektasyi dan Maulawiyah. Aliran tarekat bertasyi banyak berpengaruh dilimngkungan militer, sedangkan tarekat Maulawiyah banyak berpengaruh di lingkungan pejabat pemerintahan.
.
Kerajaan Safawi (1501–1732 M)


Safawi adalah sebuah kerajaan islam yang pernah berdiri di Persia (Iran sekarang). Kerajaan ini didirikan oleh Syah Ismail I pada Tahun 907 H (1501 M) di Tabriz.

Safawi berasal dari gerkakan tarekat bernama safawiyah yang kemudian berubah menjadi suatu gerakan politik. Gerakan tarekat itu dipimpin oleh Syeck Safiuddin Ishaq dari keturunan Imam Syiah yang ketujuh bernama Musa Al-Kazim.

Gerakan tarekat ini militan, sehingga pada akhirnya memasuki wilayah politik dan pemerintahan.

Kerajaan Safawi mencapai puncak kejayaannya pada masa kepemimpinan Syah Abbas I (1588–1629 M). Pada masa ini kerajaan safawi bukan hanya mampu meredam konflik internal di dalam negeri dan merebut wilayah yang melepaskan diri, tetapi juga mampu melebarkan wilayahnya sampai ke Tabriz, sirwan dan kepulauan harmuz, bahkan melebar ke pelabuhan Bandar Abbas.

Untuk mewujudkan stabilitas politik, syah Abbas I berusaha melepaskan diri dari ketergantungan terhadap dukungan kekuatan militer Qizilbasy. Sebagai gantinya, ia membentuk kekuatan militer yang terdiri atas budak kaukasus dan Georgia. Strategi ini telah menunjukkan hasilnya sehingga pada tahun 1598 M mengusir kekuatan Uzbek di Khirazan.

Kemajuan pada masa pemerintahan Safawi

Bidang Pemerintahan dan politik

Secara administratif, struktur organisasi pemerintahan kerajaan safawi dibagi secara horizontal dan vertical. Secara horizontal, pembagian tersebut didasarkan pada garis kesukuan atau kedaerahan. Sedangkan secara vertical mencakup dua jenis, yaitu istana (dargah) dan sekretariat Negara (diwan).

Aktivitas penyelenggaraan Negara dipercayakan kepada para Amir (yang terdiri atas kepala suku) tingkat atas wazir (menteri) yang tergabung dalam suatu dewan (jangi). Disamping itu ada lembaga lain yang tercakup dalam dewan tersebut (Majelis Nivis) yang terdiri atas sejarawan istana, secretariat pribadi syah, dan kepala Intelijen.

Bidang Ekonomi

Untuk kepentingan bidang ekonomi Syah Abbas I melakukan pemusatan system pertanian, yaitu dengan upaya memperbanyak pengalihan tanah Negara menjadi tanah raja.

Situasi dalam negeri yang terkendali membuat masyarakat safawi menjadi tenang dan giat berusaha, sehingga pertumbuhan ekonominya semakin baik.
Dengan adanya pelabuhan Bandae Abbas, perdagangan semakin maju. Selain itu, safawi juga mengalami kemajuan dalam bidang pertanian, terutama di daerah bulan sabit yang subur.

Bidang Ilmu Pengetahuan
Untuk lebih memperlancar sosialisasi dan memapankan ajaran syiah, syah Abbas I mendirikan lembaga pendidikan syiah, yaitu sekolah teologi. Perolehan Negara dari sektor pertanian yang terus bertambah telah memungkinkan syah Abbas I mampu membangun dan membiayai penerapan system pendidikan syiah.

Pada masa ini juga banyak melahirkan ilmuwan dalam berbagai disiplin ilmu sehingga dapat menambah kahsanah ilmu pengetahuan, misalnya Bahauddin Muhammad bin Husain al-Amili al-Jubai, Muhammad Baqir Astaradi, sadruddin Muhammad bin Ibrahim syirazi (Mulla shadra). Dan Muhhamad Baqir majilsi

Bidang Pembangunan dan seni

Banyak dibangun gedung-gedung yang megah dan indah, baik itu bangunan kantor, masjid, rumah sakit, maupun jembatan raksasa, dengan gaya arsitektur yang indah. Dalam bidang seni misalnya terlihat dalam kegiatan kerajinan tangan, keramik, karpet dan seni lukis

Kerajaan Mughal India (1526M–1858 M)

Kerajaan Mughal di India didirikan oleh Zahiruddin Babur (1482 -1530 M). secara geneologis khan (pihak ibu). Ekspansinya ke India dimulai dengan menundukkan penguasa setempat yaitu Ibrahim Lodi dengan bantuan alam Khan dan gubernur Lahore. Tahun 1525 M ia berhasil  menguasai Punjab dan meneruskannya ke Delhi tahun 1526 M. sejak itu Babur dapat menguasai India dan mendirikan dinasti mughal yang beribu kota di Delhi.

Babur berkuasa selama 30 tahun, dan setelah wafat ia digantikan dengan putranya yang bernama Humayun  selama 9 tahun. Pada masa ini kondisi tidak aman dengan banyaknya muncul pemeberontakan. Hingga akhirnya dia meninggal dunia dan digantika anaknya yang masih berusia 14 tahun, yaitu Akbar. Karena ia masih muda, pemerintahan diserahkan urusannya kepada Bairam Khan.

Pada awal pemerintahannya terjadi berbagai pergolakan dalam negeri, namun semua itu dapat diatasi termasuk penyerangan dari berbagai Negara yang ingin melepaskan diri. Ketika akbar sudah dewasa, dia memperluas ekspansi untuk menaklukan daerah lainnya dan berhasil mengausai daerah chundar, ghond, orisa dan Asingah. Selama pemerintahannya, kerajaan Mughal telah banyak memberikan konstribusi yang cukup besar bagi abad pertengahan antara lain :

Bidang Politik dan Militer
Sistem yang sangat menonjol pada saat itu adalah politik sulh e-kul atau toleransi universal. System ini sangat tepat, sebab mayoritas masyarakat india beragama hindu, sedangkan pemerintahan Mughal beragama Islam. Disisi lain terdapat juga rasa tau etnis di India. Lembaga yang merupakan produk dari system ini adalah Din-I-llahi dan Mansabdhari.

Dibidang Militer, pasukan Mughal dikenal sebagai pasukan yang kuat, mereka terdiri atas pasukan gajah, berkuda dan meriam. Wilayahnya dibagi dalam system distrik-distrik. Setiap distrik dikepalai oleh Sipar Salar dan sub distrik dikepalai oleh Faudjar. Dengan system pasukan Mughal berhasil menaklukan daerah-daerah sekitarnya.

Bidang Ekonomi
Dengan memajukan pertanian, terutama untuk tanaman padi, kacang, tebu rempah-rempah, tembakau dan kapas. Pemerintah membentuk lembaga khusus untuk mengatur masalah pertanian. Wilayah terkecil disebut dengan deh, dan beberapa deh tergabung dalam bergana (kawedanan). Setiap komunitas petani dipimpin oleh mukaddam. Melalui mukaddam, pemerintah berhubungan dengan petani.

Selain pertanian pemerintah juga memajukan industri tenun. Hasil industry ini banyak di eksport keluar negeri seperti Eropa, Arabia, Asia Tenggara dll. Pada masa Jahangir (penguasa Mughal keempat), banyak investor asing yang diizinkan menanam investasinya, seperti mendirikan pabrik pengolahan hasil pertanian di Surath.

Bidang seni dan Arsitektur
Karya seni dan arsitektur Mugal sangat terkenal dan bisa dinikmati hingga saat ini. Ciri yang menonjol dari arsitektur mughal adalah pemakaian ukiran dan marmer yang timbul dengan kombinasi warna-warni. Bangunan yang menunjukkan cirri antara lain : benteng merah, istana-istana, makam kerajaan, dan yang paling mengagumkan adalah taj mahal di Aghra.

Istana ini dibangun oleh Syah Jehan (penguasa Mughal V) khusus untuk istrinya Noor Mahal yang cantik jelita. Bangunan lain yang bermotif sama adalah Masjid raya Delhi yang berlapis marmer dan sebuah Istana di Lahore. Dalam bidang sastra banyak juga karya sastra yang menonjol. Seperti : banyak karya sastra yang digubah dari bahasa Persia ke bahasa India.

Pada masa Akbar (penguasa Mughal III) berkembang bahasa Urdu, yang merupakan perpaduan dari berbagai bahasa yang ada di India dan Pakistan hingga sekarang. Sastrawan Mughal yang terkenal itu adalah Malik Muhammad Jayashi dengan karya monumentalnya Padmavat, sebuah karya Alegoris yang mengandung kebajikan jiwa manusia. Sastrawan lain adalah Abu Fadhl yang juga sejarawan. Karyanya berjudul Akbar nama dan Ain e-Akbari, yang mengupas sejarah Mughal berdasarkan figure pemimpinnya.


Bidang Ilmu pengetahuan
Banyak ilmuwan itu yang datang ke India untuk menuntut ilmu pengetahuan, bahkan istana Mughal itu menjadi pusat kegiatan kebudayaan. Hal ini didukung oleh penguasa dan bangsawan serta ulama Aurangzeb (Penguasa Mughal keenan) Mislanya : memberikan sejumlah uang dan tanah dalam jumlah yang besar untuk membangun pusat pendidikan di Lucknow.

Pada tiap-tiap masjid memiliki lembaga tingkat dasar yang dikelola oleh seorang guru agama. Pada masa Syah Jehan didirikan sebuah perguruan tinggi di Delhi. Jumlah ini semakin bertambah ketika pemerintahan dipegang oleh Aurangzeb. Dibidang ilmu agama berhasil dikodifikasikan hukum Islam yang dikenal dengan sebutan fatwa I- alamgri.

A. Kemunduran Dinasti Bani Abbasiyah
Pemerintahan Dinasti Bani Abbasiyah berlangsung cukup lama mulai dari tahun (132 H s/d 656 H) atau (750 - 1258 M), mengalami kemunduran dan kehancuran pada 1258 M, akibat serangan brutal yang dilakukan oleh tentara Hulagu Khan. Adapun faktor –faktor penyebab kemunduran dan kehancuran Dinasti Bani Abbasiyah adalah :

I. Disintegrasi Politik
Disintegrasi politik sudah terjadi sejak Dinasti Bani Umayyah dan kerajaan – kerajaan islam lainnya. Pada Dinasti Bani Umayyah puncak disintegrasi terjadi ketika para khalifah tidak lagi memiliki kekuatan politik untuk menekan gerakan pemberontakan yang dilakukan oleh lawan poitik yang tidak menyukai kepemimpinan para khalifah tersebut.

Diakhir kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah para khalifahnya tidak memiliki kekuatan dan hanya sebagai symbol kekuasaan saja. Mereka menjadi boneka para penguasa yang menguasai roda pemerintahan saat itu, seperti ; penguasa Dinasti Bani Buwaihiyah. Bani Saljuk dan para perwira tinggi Turki lainnya. Banyak daerah yang mencoba melepaskan diri dari pusat kekuasaan di Baghdad. Disintegrasi politik muncul dalam beberapa bentuk:

a. Pemberontakan
Sebagian pemberontakan itu dapat diatasi, sehingga tidak menimbulkan kegoncangan social politik dan ekonomi, sebagian lagi tidak dapat diatasi seperti :

Pemberontakan Kaum Zanj

Ini berasal dari kelompok Syi’ah. Mereka tidak dapat menikmati hasil perjuangan yang telah dilakukan bersama Abul Abbas dan Bani Abbas. Mereka disingkirkan dan tidak lagi diajak bermain didalam prosespengembangan kekuasaan. Mereka kecewa dengan berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah Bani Abbas. 


Akhirnya mereka membentuk oposisi (perlawanan) untuk memusuhi para penguasa dan pendukung kekuasaan Bani Abbas.
Pemberontakan ini terjadi pada tahun 869 M. Diakhir masa pemerintahan Al-Mu’taz dibawah pimpinan Ali bin Muhammad dan berakhir pada tahun 893 M pada masa pemerintahan khalifih Al-Muwaffaq.

Gerakan Kelompok Qaramithah

Gerakan ini dilakukan untuk menentang kekuasaan khalifah Al-Mu’tamid (256-279 H/870-892M). pimpinannya adalah Hamdan Qarmath dari golongan Syi’ah Ismailiyah. Pada tahun 899 M kaum Qaramithah berhasil mendirikan sebuah wilayah merdeka di teluk Persi kemudian dijadikan sebagai basis kegiatan mereka untuk menentang kekuasaan Bani Abbas.


Sekitar tahun 902 M pemberontakan yang dipimpin oleh Abul Fawaris berhasil memasuki wilayah Syiria dan Palestina. Akhirnya terhenti ketika ingin melakukan penjarahan ke wilayah Kufah. Abul Fawaris, pimpinan pemberontakan ini berhasil ditawan dan kemudian dihukum mati.

Gerakan Kelompok Assasins

Kelompok Assasins ini dapat dikategorikan sebagai kelompok separatis atau sempalan yang melanjutkan tujuan dari gerakan Qaramithah. Kelompok ini secara ideologis berakhiran Syi’ah sama seperti gerakan Qaramithah. Gerakan ini dipimpin oleh Hasan bin sabah (w.1124 M ). Basis gerakan kelompok ini berada dikota Alamut, suatu tempat yang terletak disebelah selatan laut Kaspia.

Kelompok ini melancarkan gerakan karena mereka kecewa dengan jalannya pemerintahan Baghdad karena tampuk pemerintahan sudah tidak lagi dipegang oleh orang –orang yang layak menjadi pemimpin. Pemerintahan tidak berjalan dengan baik, mereka tidak lagi berpegang pada prinsip-prinsip pemerintahan yang benar. Pemborosan keuangan Negara oleh para pembesar negeri menyebabkan perekonomian umat islam merosot tajam.

Selain itu mereka juga kecewa karena kelompok Syi’ah tidak dilibatkan dalam pemerintahan. Gerakan ini tidak segan-segan melakukan kekerasan. Seringkali dilakukan dengan menghabisi nyawa lawan politiknya. Yang menjadi sasaran mereka adalah perdana menteri Nidzamul Muluk, kepala pemerintahan Bani Saljuk yang menguasai Baghdad:

Perebutan Kekuasaan

Sejak masa awal pemerintahan dinasti Abbasiyah, terlihat ada indikasi adanya perbutan kekuasaan didalam keluarga khalifah. Diantara penyebabnya adalah kurang tegasnya para khalifah dalam menentukan putra mahkota.

1) Kedudukan khalifah yang lemah
Wibawa khalifah Bani Abbas memudar sejak masa Al-Watsiq dan sesudahnya. Tidak ada seorangpun diantara mereka yang mempunyai kemampuan cukup untuk memimpin kerajaan.

Munculnya kerajaan-kerajaan kecil di timur dan di barat Baghdad. Luasnya wilayah Islam pada masa Abbasiyah menyebabkan pemerintah tidak dapat melakukan kontrol dengan baik terhadap wilayah-wilayah tersebut. Peluang ini dimanfaatkan oleh penguasa daerah yang jauh dari pusat untuk melepaskan diri dan menjadi kerajaan-kerajaan kecil.

2) Krisis ekonomi

Pergolakan dan pemberontakan yang terjadi di beberapa daerah menyebabkan banyak pendapatan Negara yang terhambat masuk. Terhambatnya pemasukan kas negara dari berbagai pajak ini disebabkan banyak kelompok yang enggan membayar. Selain itu krisis ekonomi juga disebabkan oleh membengkaknya jumlah pengeluaran negara yang dipergunakan untuk kepentingan kelompok istana.

3) Ketergantungan pada tentara bayaran
Faktor yang tidak kalah pentingnya adalah sifat ketergantungan yang sangat tinggi kepada tentara bayaran. Sebagai konsekuensi dari pengangkatan tentara pribadi dan professional, para khalifah harus memberi gaji atau bayaran yang sesuai dengan jabatan dan pekerjaan yang mereka lakukan.

Keruntuhan dan Kehancuran Dinasti Bani Abbasiyah 

 
Setelah mengalami perjalanan panjang, akhirnya dinasti Bani Abbasiyah mengalami kemunduran. Jatuhnya Kota Baghdad pada tahun 1258 M ke tangan bangsa Mongol, bukan saja mengakhiri khalifah Abbasiyah juga merupakan awal dari kemunduran politik dan kehancuran peradaban Islam. Dengan kekuatan 200.000 personel militer, Hulagu Khan memasuki pintu kota Baghdad pada tahun 656 H (1258 M). Kekuatan itu tidak dapat dibendung oleh khalifah Al-Mu’tashim.

Hancurnya kota Baghdad dan tewasnya Khalifah Al-Musta’shim menghakhiri krkuasaan kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Dinasti ini yang semula sangat kuat secera perlhan melemah dan akhirnya mengalamai masa kehancuran ditangan orang yang tidak memiliki peradaban. Khulagu Khan dan tentaranya melakukan pebantaian secara biadab terhadap umat Islam dan masyarakat kota Baghdad pada umumnya. Masa ini dalam sejarah Islam dikenal dengan zaman keterpurukan umat Islam dan kehancuran peradaban Islam.

Meskipun pada periode ini dikenal dengan masa kemunduran, khususnya peradaban Islam yang dikembangkan oleh Bani Abbas, ternyata dibeberapa wilayah seperti Persia, India dan Turki, terdapat perkembangan perdabaan Islam yang sangan signifikan menjelang abad ke 19 M, perkembangan peradaban Islam dapat dilihat dari berbagai usaha yang dilakukan oleh para penguasa Dinasti Safawiyah di Persia, Dinasti Mughal di India, dan Dinasti Usmaniyah di Turki.

a. Kemunduran Turki Usmani.
Fase kemunduran Turki Usmani secara perlahan semenjak kematian Sulaiman I Al-Qanuni, sehingga Usmani masih mampu bertahan selama ± 3 Abad. Fase kemunduran ini ditandai dengan melemahnya semangat perjuangan prajurit Usmani yang menyebabkan sejumlah sejumlah kekalahan dalam menghadapi sejumlah peperangan. Ekonomi semakin memburuk dan system pemerintahan tidak berjalan semestinya.


Diantara faktor penyebab kemunduran dinasti Turki Usmani adalah sebagai berikut:


- Luasnya wilayah kekuasaan Turki. Tampaknya penguasa Turki hanya menuruti ambisi penaklukan sementara penataan system dan tata pemerintahan terabaikan.
- Pemberontakan Jennisary. Tokoh-tokoh Jennisary terlibat perselisihan dengan pihak penguasa sehingga terjadi beberapa kali pemberontakan.
- Penguasa yang tidak cakap. Generasi penguasa Usmani sesudah Sulaiman Al-Qanuni cenderung lemah semangat perjuangannya.
- Merosotnya perekonomian negara akibat sejumlah peperangan.
- Stagnasui bidang ilmu dan teknologi.
- Tumbuhnya gerakan nasionalisme.

b. Kemunduran Safawi
Sepeninggal Abbas I pada tahun 1628 M, kerajaan Safawiyah mengalami kemunduran yang secara berangsur-angsur dan kemudian hancur. Hal itu tejadi karena sejumlah raja yang berkuasa setelah Abbas I merupakan penguasa yang lemah, sehingga tidak mampu mempertahankan masa kejayaan kerajaan Safawiyah.

Ada beberapa faktor, selain ketidakcakapan sejumlah raja:
a. Konflik militer yang berkepanjangan dengan kerajaan Usmani.
b. Pasukan budak yang dibentuk oleh Abbas I memiliki semangat perjuangan yang tinggi.

c. Kemunduran Mughal di India
Terdapat beberapa faktor penyebab terjadinya kemunduran dan kehancuarn dinasti Mughal di India. Diantaranya adalah konflik internal di kalangan istana, serangan bangsa Hindu, serangan bangsa Persia dan masuknya unsur asing seperti bangsa Inggris yang menguasai sektor ekonomi dengan mendirikan IEC (the East India Company).

Meneladani Perkembangan Islam Periode Pertengahan
 

Sejarah merupakan realitas masa lalu, keseluruhan fakta, atau merupakan peristiwa yang unik dan berlaku hanya sekali dan tidak berulang untuk kedua kalinya, anggap saja masa silam itu “kuburan”.

Peristiwanya mungkin tidak akan terulang kembali, akan tetapi pola-polanya kan tetap mempengaruhi kehidupan kita saai ini. Apa yang kita lakukan saat ini akan selalu terpengaruh oleh kejadian-kejadian yang ada dimasa lalu. Sebagai contoh cara kita bergaul, berbicara, memilih, bahkan belajar juga dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekeliling kita pada masa lalu.

Akan tetapi hal ini bukan menjadikan kita harus terpancang dengan keadaan masa lalu. Sebab, sejarah mempunyai dua sisi mata pedang yang harus diperhatikan. Satu sisi dia bisa menjadi alat yang ampuh untuk membela diri, artinya dengan melihat sejarah gemilang di masa lalu akan memacu kita untuk menjalani hidup lebih baik. Akan tetapi disisi lain, dia juga bisa melukai diri sendiri. Sebab, dengan mengenang sejarah gemilang kita akan terjerumus pada romantisme empiris tanpa bisa berbuat apapun.

Kejayaan Islam masa lalu bukanlah sebuah album foto yang hanya selesai dengan mengenangnya. Akan tetapi, kejayaan Islam masa lalu adalah cambuk penyemangat agar kita terpacu dan mampu untuk mendudukkan Islam sedabagi agama pembaru yang menbawa kemaslahatan bagi semua pihak, seperti yang terjadi masa lalu.

Pada pembahasan di atas, kalian telah melihat berbagai macam perkembangan yang terjadi pada masa pertengahan, khususnya pada tiga kerajaan besar. Setiap kerajaan tersebut memiliki karakter yang menjadikannya besar dan mampu mengembangkan Islam secara proporsional. Melihat hal tersebut, apa yang bisa diambil untuk dijadikan pelajaran saat ini? Apakah pembahasan diatas hanya sekedar informasi tanpa aksi?

Dari pembahasan di atas, kita bisa mengambil ibrah manfaat yang akan diterapkan untuk kehidupan saat ini.

Semangat yang dimiliki oleh tiga kerajaan tersebut patut ditiru. Walaupun dengan kekuatan seadanya, mereka tetap ingin mengembangkan Islam walau hanya di daerahnya masing-masing generasi Islam, kita  harus mempunyai semangat yang sama dengan mereka, Apapun kondisinya, semangat untuk menegakkan panji-panji Islam harus tetap dilakukan. Hal ini lakukan pada kehidupan sehari-hari dengan melakukan kewajiban kita sebagai seorang muslim yang taat.

Kekuasaan yang diberikan bukan dijadikan alat untuk menguasai asset-aset masyarakat. Sebaliknya, masyarakat merasakan ketenangan dan kemakmuran pada masa-masa pemerintahan mereka.

Mengembangkan Islam bukan hanya dalam ibadah ritual belaka. Kita bisa lihat perkembangan ilmu pengetahuan yang dicapai oleh tiga kerajaan besar pada masa pertengahan.

Mengembangkan ilmu pengetahuan adalah salah satu cara kita menghargai diri sendiri sebagai seorang muslim dan juga menambah keyakinan kita akan kebenaran Islam. Ilmu pengetahuan adalah rahasia yang diberikan ioleh Allah kepada umat-Nya agar manusia berfikir. Keteguhan fakir dan kesungguhan doa adalah modal utama untuk mengembangkan pengetahuan dengan landasan keimanan.

Semangat persatuan dan kesatuan
yang dibina oleh tiga kerajaan besar (Usmani, Safawi dan Mughal) dapat membangun kerajaan pada zamannya perlu dibanggakan.

Semangat persatuan dan kesatuan ini perlu kita contoh untuk mengatasi kemelu kebangsaaan saat ini. Di tengah berbagai macam isu disintegrasi dan kasus SARA yang terus terjadi, persatuan dan kesatuan bangsa merupakan jawaban untuk semua permasalahan tersebut.

Semangat kerja keras dan pantang menyerah yang dilakukan oleh rakyat dan pemimpin pada masa pertengahan telah membuahkan hasil yang gemilang dengan berdirinya tiga kerajaan besar.

Hal ini mengajarkan kepada kita, jika ingin berhasil dalam mencapai cita-cita harus bekerja keras dan pantang menyerah.

Kreativitas dan ketekunan yang dimiliki para ilmuwan pada masa pertengahan telah melahirkan berbagai ilmu pengetahuan dan perkembangan kebudayaan. Untuk saat ini, tantangan yang kalian hadapi sangat berbeda dengan mereka. Akan tetapi, ketekunan dan semangat mereka untuk memajukan peradaban Islam patut dijadikan tauladan.

Kesimpulan
Sebab-sebab kemunduran Islam pada abad pertengahan :

1. Bani Abbasiyah, penyebab kemundurannya ada beberapa faktor :
a. Disintegrasi politik, munculnya beberapa pemberontakan antara lain :
 · Pemberontakan kaum Zanj
 · Gerakan kelompok Qaramithah
 · Gerakan kelompok Assasin

Perebutan kekuasaan dan kedudukan khalifah yang lemah
b. Krisis ekonomi
c. Ketergantungan pada tentara bayaran

2. Meskipun Dinasti Abbasiyah telah hancur,
ternyata masih terdaapat beberapa wilayah yang mengembangkan wilayah Islam yang mengembangkan kekuasaan Islam, diantaranya Dinasti safawi, Dinasti Mughal, dan Dinasti Turki Usmani.

3. Dengan kejayaan Islam merupakan pemacu semangat bagi seluruh umat Islam dalam mencapai kemaslahatan.

jumrahonline